KTT ASEAN-ROK: Padukan Kerja Sama Ekonomi dan Sosial demi Pererat Hubungan
Rabu, 27 November 2019 - 09:00
KTT ASEAN-ROK: Padukan Kerja Sama Ekonomi dan Sosial demi Pererat Hubungan
Sumber gambar : ekon.go.id
Pada hari kedua dalam rangkaian event Association of South East Asian Nations – Republic of Korea (ASEAN-ROK) Commemorative Summit di Korea Selatan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mendampingi Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menjalankan lima agenda utama.
 
Kelima agenda tersebut adalah ASEAN-ROK Commemorative Summit; ASEAN-ROK Start-up Summit; ASEAN-ROK Innovation Showcase; Leaders Retreat Luncheon; dan Kunjungan ke komplek Pabrik Hyundai Motor Company (HMC).
 
Commemorative Summit kali ini untuk memperingati hubungan 30 tahun antara ASEAN dan Korea Selatan. Pertemuan dibagi menjadi dua sesi yang masing-masing mengangkat tema “ASEAN-ROK 30 & 30” dan “Enhancing Connectivity toward Prosperity”.
 
Sesi pertama secara fokus membahas pencapaian kemitraan antara ASEAN-ROK dalam 30 tahun terakhir dan arah kemitraan untuk 30 tahun yang akan datang. Dalam intervensinya, Presiden RI menyampaikan bahwa dalam 30 tahun ini, Korea telah menjadi mitra dagang dan investasi terbesar ke-5 bagi ASEAN, serta merupakan mitra pertama yang memiliki ASEAN Cultural House sebagai wadah promosi kebudayaan ASEAN di Korea.
 
Dalam 30 tahun mendatang, lanjut Presiden Jokowi, akan terjadi pergeseran peran yang signifikan dan melampaui negara maju dari emerging economies. "Namun, terdapat juga beberapa hal yang perlu dicermati untuk menciptakan suatu kondisi inklusif, antara lain dengan melaksanakan reformasi struktural, menjalankan investasi yang efektif dan berkelanjutan pada bidang teknologi, membangun infrastruktur dan pendidikan, melakukan diversifikasi ekonomi, dan mengatasi kesenjangan ekonomi," jelasnya.
 
Presiden RI juga mengusulkan, ke depannya kerja sama ASEAN-ROK dapat difokuskan pada perdagangan, investasi, pendidikan riset dan teknologi, ekonomi kreatif dan pengembangan energi terbarukan. Presiden pun menyambut baik rencana pendirian ASEAN-ROK Science and Technology Center di Jakarta pada 2020 guna penguatan dan pengembangan SDM, vokasi, teknologi manufaktur, dan energi terbarukan.
 
Kemudian, untuk pengembangan kerja sama ekonomi kreatif, Presiden Jokowi mengusulkan pembentukan ASEAN-ROK Creative Economy Center yang akan menjadi wadah diskusi dan implementasi kerja sama ASEAN-ROK.
 
Pada sesi kedua, pembahasan difokuskan pada upaya peningkatan konektivitas, utamanya pada bidang infrastruktur, smart city partnership, perhubungan udara dan people-to-people contact. Pada sesi ini, Presiden RI mengusulkan sinergi antara New Southern Policy Korea Selatan dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dengan fokus pada bidang konektivitas infrastruktur dan people-to-people contact.
 
“Maka itu, kami mengundang Korea Selatan untuk berpartisipasi aktif dalam Indo-Pacific Infrastructure and Connectivity Forum 2020 di Indonesia. Dan, terkait people-to-people contact, saya mendorong program bebas visa kunjungan antara masyarakat ASEAN dan Korea, serta meningkatkan pemberian beasiswa, pelatihan dan pendidikan vokasi bagi pelajar di ASEAN dan Korea,” ungkap Presiden.
 
Sementara, dalam Leaders Retreat Luncheon, Presiden RI yang didampingi oleh para menteri dan anggota delegasi lainnya, membahas perkembangan kondisi politik dan ekonomi di Semenanjung Korea. Ia menekankan dua kata kunci dalam menjaga stabilitas kawasan tersebut, yakni perdamaian dan kesejahteraan. Untuk mewujudkan keduanya dibutuhkan strategic trust yang kuat dari semua pihak di kawasan.
 
Agenda terakhir adalah kunjungan ke pabrik HMC di Ulsan. Pada momen ini, HMC secara resmi mengumumkan proyek investasinya di Indonesia, sekaligus menandatangani Nota Kesepahaman di bidang kerja sama investasi dengan Pemerintah Indonesia. Nilai investasi HMC di Indonesia mencapai US$1,8 miliar, dan terbagi menjadi 2 tahap, yakni tahap pertama sebesar US$877 juta dan tahap berikutnya sejumlah US$931 juta.
 
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, "Nantinya, kapasitas produksi direncanakan sebanyak 250 ribu unit per tahun, setengahnya akan dialokasikan untuk pasar ekspor. Tenaga kerja yang diserap diproyeksikan mencapai lebih dari 3.500 orang, ini baru yang tenaga kerja secara langsung," tuturnya. (rep/iqb)
 
***
Berita Terkaitrss
Informasi tidak ditemukan
Kerjasama Ekonomi InternasionalLainnyarss
Informasi tidak ditemukan
Berita TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan