Realisasi KUR Terus Menunjukkan Perbaikan
Kamis, 06 Desember 2018 - 14:15
Realisasi KUR Terus Menunjukkan Perbaikan
Sumber gambar : ekon.go.id
Wonogiri - Pada awal diluncurkan pada tahun 2007-2014, Kredit Usaha Rakyat (KUR) diberikan dengan skema Iuran Jasa Penjaminan (IJP) dan suku bunga relatif tinggi yaitu sebesar 24% untuk KUR Mikro dan 13% untuk KUR Ritel. Lalu pada 2015 diubah menjadi skema subdisi bunga dengan suku bunga 12%. Selanjutnya sejak 1 Januari 2018, suku bunga tersebut diturunkan pada titik terendah sebesar 7%.
 
“Dulu KUR itu bunganya mahal sehingga tidak terjangkau masyarakat. Realisasinya pun hanya di bawah 10 triliun dalam setahun,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat meluncurkan KUR khusus peternakan rakyat, Kamis (6/12) di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.
 
Sementara akumulasi pemberian KUR dengan sistem subsidi bunga sejak tahun 2015 sampai dengan 31 Oktober 2018 telah mencapai Rp317 triliun dengan baki debet sebesar Rp132 triliun. Penyalurannya adalah kepada 13,3 juta debitur dengan rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL) di level 1,24%.
 
“Sejak tahun 2015, kami pun terus mempelajari realisasinya. Ternyata sebagian besar digunakan oleh sektor perdagangan. Wah, kita juga ingin KUR bisa menyasar sektor produksi. Kegiatan jasa juga termasuk, misal ibu-ibu mau membuka salon kecantikan, itu harusnya bisa menggunakan KUR,” terang Menko Darmin.
 
Pemerintah juga akan terus berupaya membangun infrastruktur, mendorong sistem klaster, mengupayakan pasca panen yang baik dari sisi gudang dan pengering, hingga urusan logistik.
 
Mengamini Menko Darmin, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menegaskan perlunya akses modal dan pendampingan. “Jika akses modal sudah mudah, kucuran dana juga ada, pendampingan sudah siap, tinggal masyarakat yang mau terus berlatih agar makin terampil. Maju, makmur, dan sejahtera itu kuncinya cuma satu, yaitu Mau. Kalau mau, pasti bisa,” tutur Ganjar.
 
Apalagi, tambah Ganjar, khusus Wonogiri ini punya Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yang mendapat pengakuan internasional serta tersedianya hijauan yang melimpah dan murah karena adanya Waduk Gajah Mungkur.
 
“Selain itu juga ada dukungan dari teman-teman santri. Para santri di sini ngajinya oke, usaha juga harus bisa, sehingga menjadi santri-santri yang mandiri. Kita akan dorong terus agar masyarakat makin berdaya,” kata Ganjar.
 
Sebagai rangkaian acara dari peluncuran KUR khusus peternakan rakyat ini, ada pula acara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Hadir Untuk Negeri, Pemberdayaan Ekonomi Santri, dan Tabligh Akbar Kebangsaan di Provinsi Jawa Tengah. (ekon) 
Berita Terkaitrss
Informasi tidak ditemukan
Ekonomi Makro dan KeuanganLainnyarss
Informasi tidak ditemukan
Berita TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan