Sumber ekon.go.id

[Berita] - Konsumsi Jamu Meningkat, Pemerintah Berdayakan UMKM dengan Pendekatan Klaster Obat Tradisional

08 Sep 2020 13:38 WIB

Permintaan terhadap produk obat tradisional diyakini mengalami peningkatan di situasi pandemi saat ini. Hal ini terkait dengan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Untuk itu, Pemerintah bekerja sama dengan seluruh sektor dan stakeholder untuk memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) melalui pendekatan klaster atau sentra, dalam hal ini termasuk klaster obat tradisional.

“Dalam kesempatan ini saya berharap bentuk kerja sama ini dapat diperluas dan terintegrasi sehingga dapat mendukung pemulihan perekonomian nasional, dan klaster atau sentra usaha obat tradisional terus tumbuh dengan baik,” tutur Deputi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Rudy Salahuddin dalam Focus Group Discussion Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Pengembangan Sentra Usaha Obat Tradisional, di Tangerang Selatan, Banten (8/9).

Obat tradisional dianggap bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan imunitas, sehingga saat ini masyarakat banyak mengonsumsi obat tradisional khususnya jamu dan minuman kesehatan.

“Kondisi pandemi ini berpotensi membuka peluang bagi upaya pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pengembangan komoditas obat tradisional. Di Jawa Tengah rata-rata penjualan UMKM jamu meningkat sebesar 300-400% per hari dengan variasi jenis jamu yang lebih banyak,” tutur Rudy.

Obat tradisional merupakan kekayaan budaya dan alam Indonesia, serta memiliki nilai strategis dari sisi ekonomi. Industri obat tradisional di Indonesia bersifat padat karya dan didominasi oleh pelaku UMKM  yaitu sebesar 87,2%. Industri ini juga dianggap memiliki backward linkage (keterkaitan ke belakang) yang kuat dengan sektor pertanian.

Namun, sebagai yang mendominasi industri jamu, UMKM obat tradisional masih mengalami tantangan dalam hal pengembangannya. Tantangan yang kerap kali dihadapi UMKM di sektor ini antara lain, keterbatasan bahan baku, peralatan, permodalan, dan sumber daya manusia.

“Selain itu, tantangan juga terjadi pada penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Tantangan-tantangan ini menyebabkan keterbatasan kapasitas produksi dan pemasaran,” ucap Deputi Rudy.

Menurut Rudy, dalam rangka mengakselerasi upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan kegiatan usaha obat tradisional perlu dilakukan pembinaan UMKM obat tradisional secara terpadu, efisien, dan berkelanjutan. Salah satu upaya yang perlu didorong adalah pengembangan sentra UMKM obat tradisional.

“Ke depan, kami berharap semakin banyak UMKM yang meningkat daya saing produknya serta mampu menggerakan perekonomian lokal yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja,” ucapnya.

Pemerintah menyadari upaya peningkatan kemampuan UMKM obat tradisional di Indonesia tidak akan sukses tanpa adanya partisipasi aktif dari UMKM dan kolaborasi antar kementerian/lembaga. Oleh karena itu, Rudy menegaskan, diperlukan kerja sama seluruh sektor dan stakeholder dalam pemberdayaan UMKM melalui pendekatan klaster/sentra guna mendukung kapasitas produk maupun pelaku usaha yang berorientasi ekspor.

Saat ini Pemerintah tengah melakukan berbagai upaya kebijakan untuk dapat menyeimbangkan antara penanganan krisis kesehatan dan perbaikan ekonomi melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Rudy berharap UMKM yang merupakan salah satu kunci dalam pemulihan ekonomi juga dapat terus diberdayakan.

“Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat dan kewirausahaan melalui penguatan UMKM merupakan salah satu kunci dalam PEN. Dengan PEN Pemerintah berharap seluruh lini sektor yang terkena dampak dapat bertahan dan bangkit,” pungkasnya (kun/iqb)

***


Bagikan di | Cetak | Unduh