[Siaran Pers] - Empat Tahun Jokowi-JK: Fundamental Ekonomi Makro Indonesia Sehat dan Kuat
Selasa, 23 Oktober 2018 - 11:25
[Siaran Pers] - Empat Tahun Jokowi-JK: Fundamental Ekonomi Makro Indonesia Sehat dan Kuat
Sumber gambar : ekon.go.id
Dokumen Lampiran
NoDeskripsiFilenameFilesize 
1Bahan Paparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian - 4 Tahun Kerja Pemerintahan Jokowi-JKmenko-ekonomi-4-tahun-pemerintahan-jokowi-jk.pdf2.3 MB
JAKARTA - "Selama empat tahun pemerintahan Jokowi-JK ini fundamental ekonomi makro Indonesia sehat dan kuat," tegas Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 Edisi 4 Tahun Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan tema "Pembangunan Ekonomi dan Daya Saing", bertempat di Auditorium Gedung 3 Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (23/10/2018). 
 
Namun ia menambahkan tetap ada tantangannya, yaitu pertumbuhan ekonomi dari tahun 2014 – 2017 itu meningkat tapi memang pelan-pelan. "Sekarang sampai semester 1, pertumbuhan 5,17%. Dalam situasi ekonomi dunia yang sedang terjadi gangguan dan gejolak, maka dapat diakui bahwa perekonomian kita membaik ," tukasnya.
 
Lebih jauh dari itu, masih menurut Menko Darmin, indikator-indikator yang lebih dalam dari sekedar pertumbuhan ekonomi yaitu tingkat kemiskinan mencapai posisi terbaik yang kita alami yaitu 9,82%.
 
"Rasio gini juga membaik yaitu sekitar 7-8 tahun terakhir. Angkanya adalah 0,389. Tingkat pengangguran juga posisi terbaik, terlihat konsisten menurun yaitu 5,13%. Tingkat inflasi dapat dikendalikan, dulu inflasi double digit, dan dalam periode 4 tahun terakhir kinerjanya jauh lebih stabil yaitu angkanya 3,5%. Pemerintah mampu mewujudkan inflasi rendah disekitar kita," tambahnya.
 
Selanjutnya Menko Darmin menilai kinerja fiskal jelas makin menguat. "Memang sempat 2-3 tahun lalu ada kelemahan, terutama kegiatan ekonomi sektor riil. Kita terus membangun infrastruktur. Ada banyak mengkritik utang jaman pemerintahan ini angkanya tinggi. Tapi kini dibarengi pertumbuhan ekonomi yang stabil," jelasnya.
 
Sedangkan jika diukur dengan indeks ketahanan pangan, Indonesia mengalami indeks yang cukup menggembirakan. "Sebab dari tahun 2016 indeksnya 71, kemudian menurun menjadi 69 lalu menjadi 65. Kalau dilihat dari indeksnya sendiri 63,6. Indonesia memang masih agak kalah dengan Malaysia, Thailand , Vietnam. Yang perlu dicatat indeks elektabliitasi, yang menyangkut kesejahteraan masyarakat. Kita sudah jauh membaik karena sekarang sudah diangka 97,50," tukasnya.   
 
Selanjutnya, Menko Darmin bertanya apa yang membedakan strategi pembangunan Jokowi-JK dengan pemerintahan terdahulu? Ia menjawab bahawa pemerintah Jokowi-JK seimbang dalam menjaga supply dan demand. kalau demand itu moneter dan fiskal, kalau supply  itu membangun infrastruktur.  "Apa manfaatnya menjaga supply dan demand seimbang? Kita sebenarnya ada pada satu titik kita siap melakukan transformasi ekonomi tanpa harus melakukan perpindhan orang dari pertanian ke industri," jelasnya lagi.
 
"Dengan semua itu pada tahun berikutnya sudah jauh lebih siap untuk menentukan transformasi ekonomi. Kita harus kembangkan segera yang namanya logistik. Kita masih perlu meningkatkannya," pungkasnya.
 
Turut hadir dalam FMB 9 kali ini sebagai narasumber antara lain Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika. (FMB9)
Siaran Pers Terkaitrss
Informasi tidak ditemukan
Siaran Pers TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan