[Siaran Pers] - Tindak Lanjuti Nota Kesepahaman, Produsen Sawit Indonesia – India Bertemu Diskusikan Tantangan Sawit Global
Rabu, 19 Desember 2018 - 13:22
[Siaran Pers] - Tindak Lanjuti Nota Kesepahaman, Produsen Sawit Indonesia – India Bertemu Diskusikan Tantangan Sawit Global
Sumber gambar : ekon.go.id
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA
 
SIARAN PERS
 
Tindak Lanjuti Nota Kesepahaman, Produsen Sawit
Indonesia – India Bertemu Diskusikan Tantangan Sawit Global
 
Jakarta, 19 Desember 2018
 
Indonesia dan India secara tradisional telah lama menjalin hubungan ekonomi yang saling menguntungkan, salah satunya dalam perdagangan minyak kelapa sawit. Data tahun 2017 menunjukkan, total nilai perdagangan kedua negara tercatat 18,1 miliar USD, dimana 34,8%-nya merupakan ekspor produk minyak sawit dari Indonesia ke India, atau senilai 4,9 miliar USD. Ini menunjukkan pentingnya minyak sawit bagi kedua negara.
 
“Hari ini kita akan berdiskusi untuk menindaklanjuti Nota Kesepahaman (MoU) antara The Solvent Extractors Association of India (SEA), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) yang telah ditandatangani pada tanggal 16 Juli 2018 lalu di Jakarta,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud, Rabu (19/12) di Jakarta.
 
Musdhalifah menerangkan, MoU tersebut berisi kerangka keberlanjutan produksi minyak sawit dan perdagangan Indonesia-India. Tujuannya untuk mempromosikan pengembangan dan penggunaan minyak sawit Indonesia dan memfasilitasi implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) secara lebih luas. Ini semua untuk memajukan kepentingan produsen, pengolah, pengguna, dan konsumen melalui dukungan dan aktivitas pengembangan produk dan pasar.
 
Secara keseluruhan, pertemuan ini mendiskusikan tentang tantangan-tantangan global dalam perdagangan minyak sawit, khususnya di antara para mitra di Asia. “Konteks pertemuan ini memang business to business. Pemerintah berlaku sebagai fasilitator dan observer untuk melihat kerjasama B to B ini berjalan seperti apa,” sambung Musdhalifah.
 
Dalam lingkungan perdagangan secara global, kata Musdhalifah, ada hambatan perdagangan tarif dan non-tarif yang memberi ketidakpastian di antara negara-negara perdagangan sawit. Hal-hal tersebut dalam jangka panjang juga bisa mempengaruhi hubungan bilateral antara mitra dagang.
 
“Padahal kan kita berharap ekspor sawit kita terus meningkat ke India. Untuk itu, kita perlu komunikasikan dengan baik agar jika ada potensi-potensi pemenuhan kebutuhan minyak nabati, India akan memilh Indonesia sebagai supplier utama mereka,” tegasnya.
 
Tantangan yang dihadapi saat ini, konsumen minyak sawit makin sulit mendapatkan produk dengan harga terjangkau. Di sisi lain, para petani kecil juga makin terjepit posisinya dalam rantai pasokan, padahal sebagian besar komoditas ini diproduksi oleh segmen petani kecil. Peran mereka sangat strategis dan berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan global.
 
Di lain hal, permintaan global terhadap minyak nabati juga terus meningkat seiring dengan tantangan bagi industri minyak sawit yang turut meningkat pula. Pemerintah pun terus berupaya meningkatkan produktivitas petani kecil, sekaligus mengembangkan sisi hilir Crude Palm Oil (CPO) agar memberi nilai tambah.
 
“Dalam hal keberlanjutan industri minyak sawit, kami juga terus memperhitungkan aspek lingkungan, ekonomi, sosial, dan pembangunan. Standar ISPO juga terus kita perkuat,” papar Musdhalifah.
 
Sementara itu Asisten Deputi Perkebunan dan Holtikultura Kemenko Perekonomian Wilistra Danny menambahkan, inisiatif pertemuan ini datang dari pemikiran bahwa Pemerintah senantiasa mencari cara untuk meningkatkan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan antar kedua negara. Dalam konteks pertemuan ini, ia menilai perlu bagi Pemerintah untuk menjajaki peluang peningkatan perdagangan komoditas lain di luar minyak sawit.
 
“Contohnya gula, India merupakan pemasok gula yang potensial untuk menutupi kebutuhan dalam negeri kita. Jadi bukan terbatas hanya pada (minyak) sawit. Tentu akan kita cari dan kaji skema mutual relationship yang paling cocok untuk itu”, ujar Wilistra.
 
 
Komitmen India Terhadap Keberlanjutan Industri Sawit
 
Di sisi lain, India juga menunjukkan komitmen mereka terhadap aspek keberlanjutan melalui pembentukan Kerangka Keberlanjutan Minyak Sawit India (The Indian Palm Oil Sustainability- IPOS) pada Juli 2017 yang juga dihadiri oleh Delegasi Indonesia.
 
“Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia menyambut baik Framewok IPOS. Kita berharap dapat bekerja sama dengan industri minyak sawit India,” tutur Musdhalifah.
 
Ketua DMSI Derom Bangun juga turut menegaskan bahwa India adalah salah satu pengguna terbesar kelapa sawit Indonesia. Jadi komunikasi kedua pihak perlu dibangun tidak hanya antar pemerintah tetapi juga antar asosiasi.
 
“Jadi dari dua belah pihak akan membahas masalah-masalah yang dihadapi supaya bisa dicarikan solusinya. Kita harus pertahankan hubungan ini,” kata Derom Bangun.
 
Senada dengan hal tersebut, Musdhalifah menambahkan, SEA adalah salah satu organisasi terbesar di India sehingga bisa menjadi partner pemerintah India. “Jadi kita berharap SEA bisa menjadi jembatan komunikasi atau penyambung lidah dengan pemerintahnya. Untuk itu, di forum ini kita betul-betul akan membahas tindak lanjut MoU tersebut agar India tetap jadi konsumen utama produk sawit kita,” pungkas Musdhalifah.
 
Hadir pula dalam kesempatan ini antara lain The President of SEA, Atul Chaturvedi; Managing Director of SNAL, Shatadru Chattopadhayay; Country Manager of Yayasan Solidaridad Network Indonesia, Kulbir Mehta; dan perwakilan dari Kedutaan Besar India di Jakarta. (ekon)
 
***
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Hermin Esti Setyowati
 
Website : www.ekon.go.id
Twitter & IG : @perekonomianRI
Email : humas@ekon.go.id
Siaran Pers Terkaitrss
Informasi tidak ditemukan
Siaran Pers TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan