Sumber ekon.go.id

RUU Cipta Kerja Jadi Jalan Pembuka Reformasi Struktural Ekonomi Indonesia

06 Mar 2020 10:41

Reformasi struktural terhadap perekonomian Indonesia akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sejarah mencatat, Indonesia pernah melakukannya 2 (dua) kali. Pertama, saat pergantian Orde Lama ke Orde Baru. Kedua, saat pergantian Orde Baru ke Era Reformasi.

Guna merespons dinamika ekonomi global saat ini, Pemerintah pun kembali mengupayakan reformasi struktural dengan membuat RUU Cipta Kerja. Transformasi ekonomi pun diharapkan lahir agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi lima besar ekonomi terkuat di dunia.

“Kedua reformasi struktural dahulu, didorong adanya krisis ekonomi maupun politik. Sementara kali ini, murni berasal dari keinginan Pemerintah untuk memanfaatkan momentum menuju Indonesia 2045,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat melakukan pertemuan dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Jumat (6/3) di Jakarta.

Menko Airlangga menggarisbawahi, dalam RUU yang terdiri dari 15 Bab dan 174 Pasal ini, porsi substansi terkait Perizinan, Kemudahan Berusaha, Investasi, dan UMKM/Koperasi ada sekitar 86,5%.

RUU Cipta Kerja, lanjutnya, mengubah konsep perizinan berusaha yang semula berbasis izin (license approach) ke konsep perizinan berbasis risiko (risk based approach). Hal ini dimaksudkan untuk menyederhanakan perizinan berusaha di Indonesia dan masuk ke konsep penerapan standar.

“Jadi hal yang kami dorong adalah perbaikan ekosistem perizinan, salah satunya dengan menerapkan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK),” ujarnya.

Menko Perekonomian pun meyakini, Indonesia pasti mampu memanfaatkan momentum untuk menjadi salah satu negara yang berpengaruh terhadap stabilitas maupun pertumbuhan ekonomi di ASEAN.

“Saat ini, kawasan yang paling stabil di dunia adalah ASEAN dan menjadi satu-satunya wilayah dengan pertumbuhan di atas pertumbuhan ekonomi dunia. Kita harus memanfaatkan momentum ini,” tuturnya.

Saat ditanya tentang Virus Korona, Menko Airlangga menjelaskan, bukan hanya virus itu sendiri yang harus kita atasi, tapi juga rasa cemas, panik, ketakutan, berita hoaks, dan rumor. Ia pun mengajak semua pihak agar berhati-hati dalam melihat dan memilah informasi. (idc/iqb)

***


Bagikan di | Cetak | Unduh