Sumber ekon.go.id

Pengembangan Kemitraan Closed Loop Kabupaten Sikka: Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Komoditas Hortikultura

01 May 2021 09:29

Setelah sukses diterapkan di Kabupaten Garut dan Kabupaten Sukabumi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berupaya untuk segera melakukan percepatan replikasi Program Kemitraan Closed Loop Hortikultura ke daerah lain. Beberapa Pemerintah Daerah telah tertarik mengembangkan pola kemitraan yang saling menguntungkan ini, salah satunya adalah Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud yang diwakili oleh Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Yuli Sri Wilanti, melakukan kunjungan ke Kabupaten Sikka untuk menjelaskan secara langsung kepada Bupati Sikka seperti apa pola kemitraan closed loop. Juga dilakukan kegiatan diskusi bersama para petani milenial di Kabupaten Sikka yang sudah mengembangkan smart farming dan sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation System) di atas lahan seluas 1 ha yang ditanami komoditas hortikultura (cabai, tomat, pare, semangka, kacang panjang, dan bawang).

Pola kemitraan ini menyinergikan rantai pasok pertanian dari hulu hingga hilir sehingga petani sebagai tokoh utama akan dihubungkan langsung dengan semua stakeholder mulai dari penyedia benih, pupuk, perlindungan tanaman, pendampingan petani, pembiayaan, sampai dengan offtaker.

Kabupaten Sikka mempunyai potensi agribisnis yang sangat besar dan pasarnya dapat menjadi penghubung perdagangan antar kabupaten di NTT. “Oleh karenanya akan sangat bagus jika di Sikka bisa dikembangkan agribisnis dengan pola kemitraan yang mampu meningkatkan produktifitas dan pendapatan petani, terlebih di Sikka banyak petani muda yang telah mengembangkan teknologi smart farming dan drip irrigation di lahan kering” tutur Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo pada kesempatan rapat koordinasi dengan para stakeholder, Rabu (28/04).

Saat ini kebutuhan pasar lokal di Kabupaten Sikka terhadap produk hortikultura yang berupa sayuran dan buah sangat tinggi namun sebagian besar masih dipenuhi dari luar pulau, seperti dari Makassar, Bima dan kabupaten lain. Salah seorang peserta diskusi dari kalangan petani milenial, Yance Maring, mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi petani hortikultura di Kabupaten Sikka yaitu fluktuasi harga terutama ketika produk hortikultura dari luar NTT datang dalam jumlah banyak, produk petani lokal tidak bisa bersaing karena selama ini produksi hanya dilakukan dalam skala kecil.

Senada dengan itu Yuli menambahkan, “Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan pasar agar petani dapat merencanakan tanam sesuai kebutuhan pasar dan melakukan kemitraan dengan offtaker sehingga tidak perlu khawatir harga akan turun ketika pasokan dari luar pulau datang dalam jumlah banyak karena komoditas yang ditanam petani sudah mempunyai pasar yang jelas”.

Program Kemitraan Closed Loop ini rencananya akan dilaksanakan di atas lahan seluas 10 ha yang akan digarap oleh 10 petani milenial yang telah berkomitmen untuk mengembangkan lahan dengan menerapkan smart farming dengan teknologi drip irrigation yang sudah dibangun oleh petani milenial Kabupaten Sikka. Diharapkan produk yang dihasilkan oleh petani ini dapat memenuhi kebutuhan di pulau Flores dan mendukung pasokan di kawasan DSP Labuan Bajo. Dukungan dari semua stakeholder yang akan terlibat dalam kemitraan closed loop akan segera dikoordinasikan oleh Kemenko Perekonomian agar pengembangan kemitraan closed loop di Kabupaten Sikka dapat segera diimplementasikan.

Dalam kesempatan lainnya, Musdhalifah menyampaikan, “Pemerintah memastikan akan terus mendukung berbagai inisiatif sinergi dan kolaboratif seperti inklusif closed loop yang melibatkan petani, koperasi, perbankan, hingga offtaker diharapkan menjadi lesson-learned bagi petani hortikultura”. (dep2/map/fsr/hls)

***


Bagikan di | Cetak | Unduh