Sumber ekon.go.id

Pasca Idulfitri, Harga dan Pasokan Pangan Dievaluasi

18 May 2021 19:26

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan monitoring terhadap ketersediaan dan harga pangan di sejumlah daerah selama bulan Ramadan yang menunjukkan bahwa stok pangan tersedia dalam jumlah yang cukup dengan harga yang relatif stabil.

 

"Stabilitas pasokan dan harga pangan selama bulan Ramadan tahun ini tercapai berkat kerjasama lintas kementerian dan stakeholder terkait yang solid", ujar Asisten Deputi Pangan Muhammad Saifulloh mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud saat memimpin Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Evaluasi Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan Pasca Idulfitri 1442 H di Jakarta (17/5).

 

Muhammad Saifulloh juga menekankan pentingnya penanganan pengelolaan pangan yang masih menjadi pekerjaan rumah, antara lain pengelolaan stok cadangan pangan Pemerintah dan optimalisasi kelancaran distribusi pangan.

 

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Prof. Risfaheri menyampaikan bahwa beberapa komoditias pangan yang harganya relatif tinggi seperti daging sapi, daging ayam ras, cabai besar dan cabai rawit berhasil dikendalikan melalui kebijakan operasi pasar yang dilakukan Pemerintah bekerja sama dengan BUMN Pangan dan stakeholder terkait.

 

Pasca lebaran, Neraca Pangan Strategis Nasional mengindikasikan ketersediaan pangan pokok nasional dapat mencukupi kebutuhan masyarakat pada semester II tahun 2021.

 

Pantauan stok pangan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan ketersediaan pangan yang cukup untuk kebutuhan masyarakat dengan harga yang stabil. Terkait ketersediaan daging sapi, Pemerintah perlu mewaspadai potensi kenaikan harga daging sapi di pasar internasional pasca lebaran.

 

Pengembangan sarana distribusi perdagangan khususnya dalam bentuk revitalisasi pasar tradisional menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan kelancaran distribusi dan penyediaan pangan bagi masyarakat. Dalam periode tahun 2015 - 2020 telah dilakukan revitalisasi pasar sebanyak 5.373 unit dan tahun 2021 ditargetkan 119 unit pasar dan 2 unit gudang untuk direvitalisasi.

 

Selain itu, koordinasi gerai maritim berupa tol laut, angkutan barang perintis, dan jembatan udara sedang dioptimalkan dalam pendistribusian barang khususnya bahan pokok dan bahan penting ke seluruh wilayah Indonesia dengan tujuan menurunkan atau mengurangi disparitas harga.

 

Salah satu terobosan untuk mendukung stabilitas pasokan pangan adalah melalui pembentukan Holding BUMN Industri Pangan yang ditargetkan dapat terealisasi pada triwulan III 2021. Kementerian BUMN telah menunjuk PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sebagai Induk Holding Pangan (dalam proses menyusunan payung hukum).

 

Penunjukkan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sebagai Induk Holding Pangan dengan pertimbangan antara lain: skala bisnis terbesar dari sisi pendapatan dan total aset dibandingkan anggota BUMN Klaster Pangan lainnya, likuiditas yang baik dengan posisi kas dan aset lancar yang baik, berpengalaman dalam transformasi tata kelola/good corporate governance, kapabilitas dan pengalaman sebagai perusahaan holding dan pengelolaan industri multisektor.

 

Tantangan kedepannya adalah terkait inklusivitas dan kesejahteraan petani, peternak dan nelayan yang belum optimal. Selain berperan sebagai katalis peningkatan kesejahteraan petani, peternak dan nelayan, BUMN Holding Pangan juga akan mendorong percepatan korporatisasi petani, peternak dan nelayan.

 

Turut hadir dalam acara ini perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Sekretariat Kabinet, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Perum BULOG, dan PT. RNI. (map/fsr/hls)

 

***


Bagikan di | Cetak | Unduh