Sumber ekon.go.id

Inisiatif Kolaborasi Skema Kemitraan Agribisnis Hortikultura Dukung Pemulihan Ekonomi dari Sektor Pertanian

25 May 2021 23:24

Pemerintah terus berupaya mendorong pengembangan komoditas pertanian yang berdaya saing dan berpotensi ekspor tinggi. Salah satunya melalui reorientasi pengembangan hortikultura dengan menekankan kerja sama kemitraan yang dapat membantu petani merancang pola produksi hingga pemasaran, agar menjadi mandiri dan tangguh.

Keberhasilan kebijakan dan program di sektor pertanian tak hanya dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saja, namun juga harus diikuti dengan kinerja ekspor.

Pada Triwulan I 2021, sektor pertanian memiliki kontribusi sebesar 13,17% terhadap PDB nasional, terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan (19,84%). Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memberikan sumbangsih sangat besar terhadap perekonomian Indonesia serta terbukti tangguh dan resilien di masa pandemi Covid-19. Sedangkan dari sisi ekspor, nilai ekspor sektor pertanian pada April 2021 naik sebesar 18,98% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah mendorong Pengembangan Kawasan Hortikultura Berorientasi Ekspor sebagai program prioritas melalui kerja sama kemitraan pemerintah, swasta dan para petani, yang telah dilaksanakan di tujuh lokasi (Tanggamus, Jembrana, Blitar, Bener Meriah, Bondowoso, Ponorogo dan Garut), dan ini secara khusus bekerja sama dengan PT Great Giant Pineapple (GGP).

Selain melalui program Pemerintah, perlu juga diidentifikasi pola kemitraan pada sektor pertanian yang telah dijalankan pihak swasta terkait dukungan yang dapat diberikan Pemerintah dalam rangka pengembangannya. Salah satu pihak swasta yang telah melakukan pola kemitraan adalah PT Cipta Agri Pratama (CAP), yang memulai usahanya pada 2016 dan telah melakukan kemitraan pada lahan produksi seluas lebih dari 500 hektare (ha) yang tersebar di Bandung, Purwakarta, Cianjur, Cipanas dan Probolinggo, serta dalam persiapan pemanfaatan lahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seluas 1.300 ha di Jatiluhur.

Komoditas yang dihasilkan adalah pisang kirana, pisang cavendish, pisang barangan, lemon california, jeruk dekopon, jeruk gerga, jeruk siam, jeruk chokun dan manggis. Hasil panen dipasok ke beberapa pasar modern dan jaringan supermarket di Indonesia seperti Ranch market, Transmart, Total Buah Segar, Tanihub, Sayurbox, Superindo, Farmers Market, Rezeki, Maxim, dan Lottemart.

Pada Selasa (24/5), telah dilakukan panen perdana pisang cavendish yang merupakan kemitraan dengan mengoptimalkan aset idle seluas 35 ha milik PT Gistex Chewon Shynthetic di Kabupaten Purwakarta yang digarap oleh petani sekitar. Hasil produksinya juga sudah mengikuti permintaan dari perusahaan offtaker yaitu PT Laris Manis Utama (LMU) dan PT Sewu Segar Nusantara (SSN).

Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud yang diwakili oleh Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Yuli Sri Wilanti menuturkan, “Dalam merencanakan tanam, petani perlu mengetahui kebutuhan pasar serta bermitra dengan offtaker, sehingga petani tidak khawatir akan terjadinya penurunan harga karena telah memiliki pasar yang jelas.”

Selanjutnya setelah penguasan sisi hilir, juga perlu diperhatikan masalah pendampingan intensif kepada petani, khususnya penerapan teknologi yang dapat mendukung agribisnis terpadu dan modern, serta skema kemitraan yang merupakan strategi pengelolaan agribisnis yang lebih baik.

Staf Ahli Menteri Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam Kemenko Perekonomian, Edi Priyo Pambudi menambahkan, “Kemitraan yang dilakukan di Kabupaten Purwakarta ini menunjukkan bahwa kolaborasi antar stakeholders dapat membuka peluang baru dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, serta mendukung pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi Covid-19. Kolaborasi dapat terus dikembangkan untuk menyatukan kekuatan dan saling mendukung.”

Skema yang dijalankan oleh PT CAP dapat menjadi role model yaitu perlu dibuat suatu desain kolaborasi ekonomi antar stakeholders yang terlibat dalam agribisnis hortikultura, khususnya menyinergikan insentif pemerintah dan dukungan pelaku usaha.

“Diharapkan setelah kegiatan panen ini akan makin banyak petani yang turut serta sehingga dapat menambah luas areal pertanaman di daerah lain, meningkatkan kapasitas produksi dan jenis komoditas pertanian, menambah varian produk olahan dengan tetap menjamin kualitas terbaik, dan dapat membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi petani Indonesia,” tutup Edi.

Turut hadir pada kegiatan itu yakni antara lain Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian Liferdi Lukman, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Asep Asmara, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta Midan, Camat Campaka Ade Sumarna, Direktur PT Citra Agri Pratama Rio Erlangga, Direktur PT Gistex Chewon Shynthetic Hengking Wargana, perwakilan K/L dan perusahaan lainnya yang terlibat, serta BUMDesma Kecamatan Campaka. (dep2/rep/fsr/hls)

***


Bagikan di | Cetak | Unduh