Sumber ekon.go.id

Akselerasi Ekspor Komoditas Unggulan Daerah Untuk Tingkatkan Devisa Negara

07 Jun 2021 14:10

Sebagai upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah gencar mendorong  ekspor melalui komoditas unggulan daerah. Untuk mengakselerasi hal tersebut, telah dilakukan berbagai upaya untuk menggali potensi terkait agribisnis dan hortikultura yang dapat disinergikan dengan program prioritas Pemerintah dalam rangka mendorong ekspor.

Sebagai komoditas unggulan daerah, edamame mampu memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Kabupaten Jember serta peningkatan devisa negara.  Permintaan edamame dari mancanegara sangat tinggi, terutama dari negara Jepang, Laos, dan Amerika, akan tetapi saat ini masih belum bisa terpenuhi karena keterbatasan bahan baku.

Dalam rangka mengakselerasi ekspor edamame, Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud yang diwakili oleh Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Yuli Sri Wilanti melakukan audiensi bersama Bupati Jember serta kunjungan lapangan ke kebun dan pabrik pengolahan edamame.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memberikan apresiasi terhadap program mendorong ekspor produk hortikultura Jember. "Pemkab Jember akan menyediakan lahan Pemkab untuk percepatan pelaksanaan program tersebut dan akan memfasilitasi hal-hal yang dibutuhkan", tutur Bupati Jember.

Kedelai edamame Jember sangat digemari di negara Jepang karena karakteristik rasa dan bentuknya yang lebih baik daripada negara kompetitor. Jepang sebagai negara tujuan ekspor sangat memperhatikan food safety (keamanan pangan) di samping food quality (mutu pangan) sehingga traceability (ketelusuran) untuk setiap pangan yang diedarkan menjadi persyaratan yang harus dipenuhi.

Ekspor edamame di Jember ditandai dengan pengiriman sebesar 21 ton ke pasar Jepang  dilakukan oleh PT Austindo Nusantara Jaya melalui anak usahanya PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT) pada akhir bulan April yang lalu.

"Capaian ekspor edamame yang telah berjalan dengan baik ini, diharapkan dapat ditingkatkan setiap tahunnya melalui kerja sama kemitraan yang telah dijalin antara PT GMIT dengan petani binaan dalam bentuk KSO (Kerja Sama Operasional)," tutur Yuli.

Keuntungan yang diterima petani dalam model kerja sama ini diantaranya yaitu, sebesar 97% pemodalan ditanggung PT GMIT, bantuan teknis budidaya edamame, dan hasil panen diserap seluruhnya oleh PT GMIT.

Yuli berpesan dalam upaya memenuhi kebutuhan edamame di pasar domestik dan ekspor yang tinggi perlu kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, petani edamame, dan GMIT. Juga diperlukan ekosistem bisnis yang terintegrasi, sehingga dapat meningkatkan produksi dan daya saing komoditas edamame yang dihasilkan oleh petani. (dep2/ag/fsr/hls)


Bagikan di | Cetak | Unduh