Sumber ekon.go.id

Pengembangan Hortikultura Berorientasi Ekspor Tingkatkan Produktivitas, Kualitas, dan Kontinuitas Produk Hortikultura

07 Oct 2021 16:36

Hortikultura merupakan salah satu sub sektor pertanian yang potensial dan didorong untuk meningkatkan kesejahteraan petani, ekonomi daerah, ekonomi nasional serta meningkatkan devisa negara melalui ekspor. Sub sektor hortikultura pada kuartal I dan II tahun 2021 mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,01% dan 1,84%. Hal ini mengindikasikan kontribusi sub sektor hortikultura yang sangat baik dalam struktur PDB Nasional.

Pada tahun 2020, ekspor hortikultura mencapai USD 645,48 juta, meningkat 37,75% dibandingkan tahun 2019. Peningkatan ekspor ini didominasi oleh komoditas buah-buahan selama masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Nilai realisasi ekspor buah-buahan tahun 2020 tercatat sebesar USD 389,9 juta, meningkat 30,31% dibanding tahun 2019.

Pengembangan Hortikultura Berorientasi Ekspor merupakan salah satu program prioritas yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan tujuan untuk meningkatkan produksi, kualitas, dan kontinuitas produk hortikultura. Program tersebut dilakukan melalui pengembangan kawasan sentra produksi komoditas unggulan daerah yang diarahkan untuk peningkatan ekspor dan substitusi impor melalui kerjasama kemitraan antara petani dan pelaku usaha.

Saat ini, program tersebut telah berjalan di 7 (tujuh) lokasi yaitu Kabupaten Tanggamus (Provinsi Lampung), Kabupaten Jembrana (Provinsi Bali), Kabupaten Blitar, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Ponorogo (Provinsi Jawa Timur), Kabupaten Bener Meriah (Provinsi Aceh), dan Kabupaten Garut (Provinsi Jawa Barat).

Kawasan hortikultura komoditas pisang di Kabupaten Tanggamus telah dimulai sejak tahun 2017 dan sampai dengan Agustus 2021 dan telah bermitra dengan 862 petani dengan total luasan lahan 432,49 ha.

Seiring dengan semakin meningkatnya kapasitas produksi petani di Kabupaten Tanggamus serta dalam rangka pemenuhan kebutuhan pasar internasional, telah dilakukan Ekspor perdana pisang mas ke Singapura melalui Pelabuhan Panjang (Provinsi Lampung) sebanyak 2.484 kg pada Kamis (30/9). Selanjutnya, ekspor akan dilakukan secara rutin dengan minimal volume 2,5 ton/minggu.

“Ekspor perdana pisang mas menjadi semangat bagi seluruh stakeholders untuk terus berkolaborasi pada Program Pengembangan Hortikultura Berorientasi Ekspor. Harapannya ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan berkontribusi pada peningkatan nilai ekspor,” ujar Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Yuli Sri Wilanti yang mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud, dalam kegiatan ekspor perdana Pisang Mas ke Singapura pada Kamis (30/09).

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qalbi mengapresiasi keberhasilan petani Tanggamus yang melakukan ekspor pisang mas dan berharap dapat dilakukan secara berkelanjutan serta dapat dilakukan oleh petani di daerah pengembangan yang lain. Kementerian Pertanian siap untuk terus mendukung melalui pendampingan dari sisi hulu dengan peningkatan teknologi dan akses.

Sementara itu, Bupati Tanggamus Dewi Handajani menyatakan bahwa hal ini merupakan kebanggaan bagi Kabupaten Tanggamus karena petani pisang mampu memasarkan produknya hingga ke pasar internasional.

”Berkat sinergitas yang baik, kami mampu menjadikan petani naik kelas dan hari ini akan launching ekspor pisang mas ke Singapura yang dikelola oleh Koperasi,” ujar Bupati Dewi Handajani.

Pada kesempatan yang sama juga dilakukan launching model integrasi budi daya pisang dan ternak sapi yang menerapkan circular economy/zero waste yaitu pemanfaatan batang tanaman pisang (ares) untuk bahan pakan ternak dan kotoran sapi untuk pupuk kandang.

Implementasi model integrasi ditandai dengan penyerahan secara simbolis 10 ekor sapi bantuan dari PT. Great Giant Livestock oleh Asdep Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis yang diwakili Asdep Yuli kepada Koperasi Tani Hijau Makmur. Selain itu juga dilakukan penyaluran KUR oleh Bank Rakyat Indonesia senilai 50 juta rupiah kepada 2 petani dan 25 juta rupiah kepada satu petani anggota Koperasi Tani Hijau Makmur.

Pada kesempatan tersebut Menteri Koperasi dan UKM memberikan sambutan secara virtual. Turut hadir Asisten 2 Perekonomian Pemerintah Provinsi Lampung, Deputi Bidang Perkoperasian Kementerian Koperasi dan UKM, Bupati Bener Meriah, Bupati Kepahiang, Bupati Simalungun, Kepala Kantor Bea Cukai Bandar Lampung, perwakilan Kementerian Perdagangan, perwakilan Kementerian ATR BPN, perwakilan Kabupaten Ponorogo, perwakilan Kabupaten Blitar, perwakilan Bank Indonesia, BRI dan BNI. (dep2/ltg/fsr/hls)

 


Bagikan di | Cetak | Unduh